Oleh : Rahastodiawan
 |
| Ilustrasi |
Kisah ini merupakan kesaksian dari masyarakat yang bermukim tak jauh dari rumah sakit yang terbengkalai. Banyak sudah kejadian-kejadian aneh dan ganjil yang menjadi bahan pembicaraan masyarakat sekitar. Mulai dari terdengar suara hingga penampakan sosok-sosok yang mengerikan semakin membuat lokasi tersebut tampak mencekam. Rumor tak sedap mengenai keangkeran rumah sakit itu pun semakin merebak luas ke seantero kabupaten, hingga pada suatu ketika terjadilah suatu fenomena yang menggemparkan masyarakat.
Kisah ini terjadi di sebuah Rumah Sakit Daerah yang terletak di kota kecil bagian timur Kalimantan Barat, tepatnya di kota Sintang. Butuh kurang lebih sepuluh jam perjalanan menggunakan bis dari ibukota provinsi untuk sampai ke kota ini. Populasi masyarakat kota tersebut cukup ramai, dengan banyak daerah pedesaan dan hutan yang masih asri. Adapun suku Dayak adalah etnis yang mayoritas tinggal di kota itu. Kejadian ini bermula saat ditemukannya sepasang mayat di areal lokasi rumah sakit tersebut. Keadaan mereka sungguh mengerikan, dengan kondisi tubuh telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang melekat. Masyarakat menduga mereka adalah pasangan sejoli yang sedang kasmaran. Namun keanehan muncul di benak orang-orang yang melihatnya, sebab selain keadaan mereka yang telanjang bulat, posisi kedua mayat itu juga ganjil. Mayat laki-laki ditemukan dalam keadaan tergeletak di lantai dua yang terlihat sangat berantakan, sebab pembangunannya belum rampung. Dengan lantai yang masih disemen kasar, debu dimana-mana dan tampak beberapa tumpukan pasir dan kerikil yang masih teronggok belum dikerjakan. Di situ masyarakat menemukan mayat si laki-laki terbaring kaku dalam keadaan mulut mengeluarkan darah, matanya terbelalak ke atas serta lidah terjulur keluar. Ada bekas cekikan yang menghitam di lehernya. Yang lebih mengenaskan, daerah kemaluannya juga tampak mengeluarkan darah dan sungguh menjijikkan bagi yang melihatnya, sebab bentuk (maaf) kemaluan tersebut tidak utuh lagi alias robek dan tak berbentuk sebagaimana biasanya.
Sementara itu, mayat perempuan ditemukan masyarakat berada di belakang gedung rumah sakit, tepatnya berdekatan dengan bangunan WC yang belum sepenuhnya selesai dibangun. Kondisi mayat perempuan juga tak kalah mengerikan. Selain mulut yang mengeluarkan banyak darah, anggota tubuh mayat tersebut pun tidak utuh lagi. Yaitu buah dada yang robek serta kemaluannya juga mengeluarkan darah yang sangat banyak. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan dan membuat siapa saja bergidik tatkala melihatnya. Masyarakat kemudian bertanya-tanya, apakah gerangan yang terjadi sehingga kondisi kedua mayat ini tewas dengan kondisi yang tak wajar.
Namun masyarakat belum berani menyimpulkan gerangan apakah yang terjadi sebenarnya, masyarakat hanya bertanya-tanya satu sama lain. Perlahan namun pasti, mereka yang menyaksikan kejadian ini mulai merasakan adanya bau yang menusuk penciuman mereka. Ya, kedua mayat tersebut sudah mulai membusuk. Agar tidak semakin memburuk. warga kemudian berinisiatif untuk membawa mayat tersebut ke balai desa guna mendapatkan penanganan dan secepatnya diproses untuk segera dimakamkan. Tak lupa masyarakat juga menghubungi pihak yang berwajib untuk mengusut tuntas kejadian mengerikan ini.
Prosesi pemakaman baru saja selesai, namun masyarakat masih bertanya-tanya serta keheranan dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Mereka memang mahfum dengan lokasi rumah sakit itu yang terkenal angker. Namun rasanya ini diluar nalar jika yang melakukan adalah makhluk gaib. Bagaimana mungkin para penunggu rumah sakit tersebut dapat berbuat seperti itu, sampai-sampai menghilangkan nyawa manusia. Sebab selama ini yang mereka ketahui hanyalah gangguan-gangguan yang berupa suara tertawa cekikikan, hingga penampakan sosok tubuh tinggi besar, berambut panjang, mata merah menyala dan kuku yang runcing bagai pisau. Oleh karena rasa penasaran yang demikian besarnya, masyarakat mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan kedua mayat tersebut. Beberapa warga berinisiatif memanggil ketua adat Dayak setempat untuk melakukan prosesi upacara adat dan pemanggilan roh guna menanyakan hal tersebut.
Malam itu, tepat pukul 12 tengah malam. Masyarakat berkumpul di area rumah sakit yang terbengkalai itu, beberapa keperluan upacara telah disiapkan, ada ayam kampung hitam, beberapa penganan ringan, tembakau, dupa, darah ayam dan darah babi, serta kepala babi yang diletakkan dalam sebuah nampan. Prosesi segera dimulai. Tampak beberapa warga yang menyaksikan terlihat tegang, ada yang jongkok, berdiri dan duduk langsung di hamparan rumput-rumput jarum yang mulai meninggi di areal sekeliling rumah sakit tersebut. Terlihat temenggung adat dan beberapa dukun mulai mempersiapkan diri. Mereka duduk bersila di hadapan sesajian yang telah disusun rapi tepat di halaman rumah sakit. Suasana begitu mencekam, apalagi jika kita melihat ke arah rumah sakit tersebut, sebuah gedung yang gelap gulita. Tampak di beberapa sudut cat dindingnya mulai terkelupas. Juga beberapa dek bagian teras dan lorong-lorong yang telah usang dan bolong. Tidak ada suara yang terdengar, hanya derik jangkrik yang bersahut-sahutan saja yang membuat suasana semakin membuat bulu kuduk merinding.
Sesaat para tetua adat dan dukun mulai merapalkan mantra-mantranya. Terdengar sayup-sayup dari mulut mereka irama mantra berbahasa Dayak yang begitu sakral. Masyarakat yang menyaksikan semakin bertambah tegang. Tak ada ekspresi apapun selain ekspresi tegang dan takut di antara mereka. Tak adapula yang berani berkata-kata, semuanya terdiam kaku bagaikan patung-patung yang berjejer mengelilingi para dukun dan tetua adat tersebut. Setengah jam berselang, keanehan mulai terjadi. Satu diantara dukun yang sedang merapalkan mantra tadi mulai terlihat gemetar. Peluh bertitikan diantara dahinya yang mulai mengkerut dimakan usia. Tangannya mulai gemetar bagaikan orang mengigil kedinginan, namun mulutnya masih komat-kamit merapalkan mantra. Sesaat kemudian dia berteriak sehingga mengejutkan setiap orang yang mendengarnya.
“Aaaarrrrggghhhhhh........ada apa kalian panggil-panggil aku.....” terdengar suara yang begitu berat dan serak dari dukun itu. Ya, dia telah dirasuki roh penunggu rumah sakit tersebut. Tingkah polah dukun tersebut juga tak kalah anehnya, dia seperti menggaruk-garuk tanah dan sesekali mengeluarkan geraman yang menyeramkan. Kemudian salah satu dari dukun yang lain mulai menenangkan temannya yang sedang kerasukan itu. Namun butuh tenaga beberapa orang untuk memegangnya hingga dapat dikendalikan. Setelah agak sedikit tenang, barulah salah satu dari dukun itu menanyainya.
“Tenang, datuk....harap tenang, jangan mengamuk. Kami tidak bermaksud untuk mengganggu datuk. Mohon dimaafkan sebelumnya,” ucap dukun itu agak gemetar.
“Gggrrrrhhhh.....mau apa kalian panggil aku hah!” geram sang dukun yang telah kerasukan itu.
“Kami datang kesini bukan bermaksud untuk mengganggu istirahat datuk, kami hanya ingin tahu tentang kejadian yang kami sampai saat ini masih bertanya-tanya, yaitu apa yang menyebabkan kedua orang yang tewas kemarin itu?” ujar salah seorang dari tetua adat tersebut.
“Huahahahaha..... dasar kalian ini, manusia bodoh!”
Sang dukun yang kerasukan tadi tertawa menjadi-jadi. Warga yang hadir di situ hanya memperhatikan keheranan. Tampak raut ketakutan pada wajah mereka. Terkecuali para tetua adat dan dukun yang tetap duduk dengan tenang menghadapi temannya yang sedang kerasukan itu. Setelah tawa sang makhluk gaib yang merasuki sang dukun tadi mulai mereda, dengan segera tetua adat yang lain mulai bertanya lagi.
“Kami hanya ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi sehingga mereka tewas dengan kondisi yang mengenaskan seperti itu, datuk”, pinta salah seorang dukun itu.
“Huahahahaha..... sudah kubilang, kalian semua manusia bodoh! Apakah kalian tidak tahu bahwa ini adalah tempat tinggalku!” bentak makhluk gaib yang merasuki dukun itu.
“Iya, kami paham Datuk. Tetapi yang kami tidak mengerti mengapa kedua orang tersebut bisa tewas dan berlumuran darah? Siapakah yang melakukannya?” tanya sang dukun yang lain.
“Itu salah mereka sendiri. Sekarang aku tanya kalian, bagaimana perasaan kalian jika ada orang yang berbuat kotor di halaman rumah kalian hah?” lagi roh itu membentak orang yang hadir disitu.
Semua mulut tertutup bagai dipatri baja. Tak ada yang berani bersuara, hingga salah seorang dari dukun itu menjawab dengan pelan, “tentu kami tidak senang, datuk.”
“Itulah yang dilakukan manusia-manusia bejat itu disini!” bentak makhluk gaib yang ada dalam raga sang dukun tadi, sehingga membuat kaget para warga yang tadinya terdiam. Sesaat suasana kembali menjadi hening. Kemudian makhluk gaib itu kembali berkata.
“Malam itu mereka datang kemari dengan tergesa-gesa. Tanpa permisi dan minta izin, mereka dengan lancangnya masuk ke dalam rumahku. Kemudian mereka dengan beraninya melakukan hal yang menjijikkan dirumahku. Sebab itulah aku menyuruh anak buahku untuk menghabisi mereka. Hahahahaha....... !!” ujar makhluk gaib itu sambil tertawa terbahak-bahak.
“Tapi kan mereka tidak mengetahui keberadaan Datuk dan mereka tidak bisa melihat bangsa datuk disini,”ucap ketua adat menimpali.
“Sebab itulah! Jika kalian sudah tahu itu harusnya kalian lebih mawas diri! Kalian kan sudah sering melihat anak buahku bermain-main disini. Mengapa masih saja ada yang berbuat tidak senonoh disini?”kata sang makhluk gaib itu membentak.
“Lalu, bagaimana bisa kedua mayat itu saling berjauhan dan anggota tubuhnya sampai rusak, datuk?” tanya sang dukun.
“Huahaha.....sengaja aku menyuruh anak buahku yang melakukannya, si Jereng dan Si Jarung. Mereka ku suruh untuk mencabik-cabik kemaluan manusia itu. Biar manusia-manusia yang lain tahu, bahwa aku tidak suka ada orang yang dengan lancang masuk rumahku dan berbuat kotor! Sudahlah! Aku ingin pulang. Aku tidak tahan berlama-lama dalam tubuh orang ini,” bentak sang makhluk tersebut.
“Baiklah, datuk. Terima kasih atas penjelasan Datuk dan mohon maaf atas apa yang telah anak-anak kami lakukan disini. Kami mohon kepada datuk, agar jangan mengganggu warga sini. Tentang apa yang telah terjadi biarlah menjadi pelajaran bagi kami,” pinta sang dukun.
“Baiklah. Tapi ingat, jangan sekali-sekali masuk ke rumahku dengan tidak minta ijin, atau nasib kalian akan sama dengan mereka,”ancam sang roh yang merasuki salah satu dukun tersebut.
“Kami mengerti datuk. Sekarang keluarlah, kami berjanji akan menasehati anak-anak kami supaya tidak mengganggu tempat ini lagi,” ujar sang dukun menutup pembicaraannya dengan sang roh.
Tidak lama kemudian sang dukun yang kerasukan tadi perlahan mulai melemah. Kondisinya yang tadi tegang dan berkeringat, kini sedikit demi sedikit mulai terbaring dan akhirnya rebah ke tanah. Dengan begitu prosesi upacara pemanggilan roh selesai sudah. Para dukun dan tetua adat kembali sibuk merapikan alat-alat upacara dibantu beberapa warga lainnya. Tak lupa mereka juga mengangkat dukun yang masih terkulai lemah setelah dirasuki oleh roh penunggu rumah sakit angker itu. Tak banyak kata-kata yang keluar dari mulut para warga. Namun dari mimik wajah mereka menunjukkan bahwa mereka kini sudah paham apa yang sebenarnya terjadi.
Sejak saat itu, masyarakat jadi lebih hati-hati. Tidak ada lagi yang berbuat tidak baik di tempat itu. Namun, kesan menyeramkan dari rumah sakit tersebut tetap menjadi perbincangan masyarakat. Hingga saat ini, gedung tersebut tetap terbengkalai. Gedung yang telah memakan korban itu tetap menyimpan misteri yang entah kapan akan terpecahkan. Hingga kini pula masyarakat tetap meyakini bahwa roh penunggu rumah sakit angker itu masih berdiam disana dan siap memangsa siapa saja yang berbuat tidak senonoh di tempat persemayamannya itu.
Inilah sekelumit kisah yang terjadi di sebuah gedung rumah sakit terbengkalai itu. Banyak pesan dan pelajaran yang kita petik dari kisah ini, yakni betapa hidup saling rukun dan sopan antara sesama makhluk itu sangat diperlukan. Betapa tidak, jangankan manusia, jin atau setan sekalipun tidak akan senang apabila melihat kelakuan kita yang tidak baik di dalam kehidupan masyarakat. Kisah ini juga mengajarkan kepada kita bahwa perilaku yang melanggar norma susila, sosial dan agama sungguh merupakan perbuatan keji. Apalagi dilakukan di sembarang tempat tanpa melihat kondisi dan keadaan sekitar. Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita, agar supaya kedepannya jangan lagi ada kejadian serupa yang terjadi. Karena sungguh Tuhan tidak hanya menciptakan kita kaum manusia saja di atas muka bumi ini, melainkan setan dan jin juga merupakan ciptaanNya dan kita wajib untuk hidup rukun dan sopan antar sesama makhluk ciptaanNya. Bahkan dalam salah satu FirmanNya dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Tuhan mengingatkan kepada kita yang artinya, “Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepadaKu”. Mudah-mudahan kita bukan termasuk golongan orang-orang yang merugi dan selalu berada di jalanNya.aamiin.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua hingga anak cucu kita kelak. Dan yakinlah, Jin dan Makhluk gaib lainnya juga berada hidup berdampingan dengan kita.
T A M A T